Singosari, 20 Oktober 2025 – SMK Muhammadiyah 3 Singosari kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan pembelajaran berbasis industri melalui kegiatan Sosialisasi Dana Bantuan Pemerintah Teaching Factory (Tefa) Skema Kolaborasi Tahun 2025. Acara ini dilaksanakan di Aula SMK Muhammadiyah 3 Singosari dan dihadiri oleh seluruh guru, tenaga kependidikan, serta perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang.
Kegiatan dibuka secara resmi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Kepala Sekolah Dra. Titin Prihatin Rahayu, MM, Ketua PDM Kabupaten Malang Dr. H. M. N. Humaidi, M.Ag, dan Kasie SMK Cabang Dinas Kabupaten Malang, Ir. Evi Murti Hidayati, S.P.

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah melalui program Teaching Factory Skema Kolaborasi. “Semoga kegiatan ini menjadi langkah besar untuk mengembangkan kualitas pembelajaran, meningkatkan kompetensi siswa, dan menjadikan SMK Muhammadiyah 3 Singosari semakin diminati masyarakat,” ungkap beliau.

Sementara itu, Ketua PDM Kabupaten Malang menegaskan bahwa bantuan pemerintah ini bukan hanya bentuk dukungan finansial, tetapi juga amanah untuk dijalankan dengan tanggung jawab dan komitmen bersama. “Syukur itu tidak cukup diucapkan, tapi diwujudkan dengan kerja nyata. Mari kita jaga reputasi dan semangat kolaborasi agar SMK Muhammadiyah 3 Singosari terus Hebat, Jaya, dan Unggul,” pesannya.
Pendalaman Konsep Teaching Factory
Sesi inti kegiatan disampaikan oleh Sugiarta, S.T., M.T. selaku narasumber dari Direktorat SMK. Beliau menekankan bahwa Teaching Factory (Tefa) adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan proses belajar dan produksi sesuai standar dunia kerja, sehingga siswa tidak hanya kompeten secara teknis tetapi juga memiliki karakter dan budaya kerja industri.

“Tefa bukan sekadar bantuan, melainkan model pembelajaran berkelanjutan. Walaupun dana bantuan berakhir, Tefa harus terus berjalan,” jelasnya.
Melalui sosialisasi ini, guru diharapkan memahami tahapan implementasi Teaching Factory, mulai dari identifikasi produk, perancangan pembelajaran dan produksi, asesmen berbasis kompetensi, hingga layanan purna jual. Pembelajaran diharapkan mengacu pada prinsip link and match dengan dunia industri dan memanfaatkan Business Model Canvas (BMC) sebagai alat strategis untuk merancang kegiatan produksi di sekolah.
Harapan untuk Manajemen dan Guru
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh elemen sekolah—mulai dari manajemen, guru, hingga tenaga kependidikan—untuk memperkuat pemahaman dan kolaborasi dalam mengembangkan ekosistem pembelajaran berbasis Teaching Factory.
Manajemen sekolah diharapkan mampu menyiapkan dukungan kebijakan, sarana, serta kemitraan industri yang kuat, sementara guru diharapkan dapat merancang pembelajaran yang bermakna, mendalam, dan menggembirakan bagi peserta didik.